Sabtu, 20 Juni 2015

Buka Bersama penulis dan editor Elex Media

Momen paling menyenangkan itu berbuka bersama di bulan Ramadan. Merasakan indahnya silaturahim. Teman-teman yang selama ini hanya bersua via media sosial bertemu muka dalam kesempatan ini.

Mejeng sebelum acara mulai ^_^
Seperti kemarin dalam acara buka bersama penulis dan editor Elex Media. Wuaaah bahagia sekali bertemu teman-teman penulis, bertukar kabar, menyapa editor-editor, berfoto bersama.

Foto bareng editorku yang kece ^_^

Dalam kesempatan ini juga mendengarkan penjelasan Bapak Wandi Subrata Direktur Elex Media Komputindo, mengenai perkembangan perbukuan di indonesia. Memberi semangat kepada penulis untuk terus semangat menulis. Pak Wandi juga mengatakan, seorang penulis harus percaya diri dan tidak malu mempromosikan dan memperkenalkan karyanya kepada siapa saja.

Hendaknya ke mana pun pergi, seorang penulis harus membawa buku karyanya. Kemudian pura-puralah membaca buku karya sendiri itu, agar orang di sekeliling melihat buku yang sedang dibaca.

Di masa sekarang ini, penulis juga harus belajar ilmu marketing untuk mempromosikan buku karyanya sendiri. Hm, makin berat saja ya tantangan seorang penulis. Tapi yaaa memang harus dilalui jika ingin menjadi penulis eksis dan sukses.

Pada kesempatan ini juga Elex Media meluncurkan web yang akan menjadi ajang memperkenalkan produk-produk Elex Media dan menjadi sarana bagi penulis Elex Media untuk mempromosikan karya dan profil diri.



Hidangan berbuka yang disediakan enak-enak semua. Alhamdulillah. Setelah berbuka dan salat Magrib, kami pun berfoto bersama.



Photo from Media Elex Komputindo

Photo from Media Elex Komputindo

Sesampai di rumah, baru deh membongkar isi goody bag yang diberikan untuk penulis. Wuiiih banyak. Selain ada kurma, sebotol aqua, soyjoy, tisu, 3 buah buku, sebuah sajadah dan sebuah kaos. sebuah pulpen. Hmm. benar-benar buka bersama yang menyenangkan. Alhamdulillah :)


Isi goodie bag-nya ^_^




Kamis, 18 Juni 2015

Marhaban ya Ramadan.

Tak terasa, akhirnya kita kembali tiba di bulan Ramadan. Alhamdulillah...

Kali ini menyenangkan sekali seluruh umat muslim di Indonesia memulai Ramadan di hari yang sama.

Selamat menunaikan ibadah bulan Ramadan teman-teman. Semoga Allah SWT melimpahkan banyak berkah dan menganugerahi kesehatan.



Sambil menunggu waktu berbuka, bisa sambil membaca tiga novelku yang bertema Islami. Paaas banget deh ceritanya...

Ada "Tahajud Cinta di Kota New York" yang berkisah tentang gadis Indonesia bernama Dara Paramitha. Gadis fashionable yang justru mendapat hidayah di New York.

Ada "Hatiku Memilihmu", lanjutan kisah Dara Paramitha dan Brad Smith yang semakin seru dan menyejukkan.

Ada "Pertemuan Jingga" tentang Anthea yang berusaha keras beradaptasi berada di sebuah tempat yang jauh dari kota tempat ia biasa tinggal. Ia pun terpaksa bekerja tak sesuai dengan keahliannya sebelumnya. DI sebuah Pertanian cabai yang penuh misteri. Penuh hal mistis padahal berada di sebuah desa yang penduduknya rajin beibadah. Ada apa di tempat yang dijuluki Bukit Merah ini?

Di mana Islaminya? Yuuuuk baca dulu baru deh bisa merasakan sendiri .... ^_^


Sabtu, 13 Juni 2015

JURASSIC WORLD, film yang kutunggu-tunggu

Photo from https://en.wikipedia.org/wiki/Jurassic_World

Sejak tahun lalu, ketika tahu film ini akan dibuat, aku sudah nggak sabar ingin menontonnya. Saat menonton Jurassic Park pertama kali dulu, aku suka sekali dengan kisah hewan-hewan yang sudah punah lalu dihidupkan kembali ini. Rasanya menakjubkan membayangkan hewan-hewan besar dengan bentuk yang luar biasa ini pernah hidup di bumi ini.

Jurassic Park ke-2 aku rasakan sudah tidak seseru yang pertama walau masih bisa dinikmati. Tapi Jurassic Park ke-3, benar-benar tidak sesuai harapanku. Ide tentang T-Rex yang terdampar di New York terlalu dipaksakan dan jadi mirip Godzilla.

Sampai kemudian kisah tentang hewan-hewan yang sudah punah ini dibuat lagi. Saat melohat trailernya, aku sudah bisa merasakan kali ini lebih bagus dari Jurassic Park ke-2 dan ke-3.

Semula aku berniat akan menontonnya di hari pertama pemutarannya di Indonesia. Tapi karena suatu hal, akhirnya aku undur esok harinya, tanggal 11 Juni aku memutuskan ke mal memanjakan diriku sendiri. Mentraktir makan dan nonton diriku sendiri. Asyik lhom sesekali menikmati hal yang menyenangkan sendirian :)

Aku memilih menonton di jam pertama. Sebelumnya, aku makan siang Japanesse food kesukaanku. Rice bowl beef yakiniku dengan green tea hangat.

Makan siang favorit kalau lagi ke mal :)

Bukti kalau beneran nonton ^_^

Benar saja, Jurassic World memang seruuuu. Keadaan Isla Nublar 20 tahun kemudian menjadi lebih canggih. Sudah resmi dibuka dan bisa dikunjungi. Keamanan super ketat. Teknologi serba canggih. Wuiiih terbayang betapa menakjubkannya kalau memang benar-benar ada. Dan tentu betapa mahalnya harga tiketnya.

Kisah diawali dengan Gray, seorang anak laki-laki yang sepertinya masih usia sekolah dasar atau, yang sukaaa banget dengan hewan-hewan zaman jurassic. Dia pun diizinkan berkunjung ke Jurassic World. Ditemani kakaknya Zach yang sudah SMA yang sebenarnya nggak terlalu berminat, tapi tugas dari ibunya harus mengawasi adiknya. Ibu Zach dan Gray percaya kedua anaknya akan baik-baik saja karena ada tante mereka, Claire, yang bekerja sebagai manajer operasional di Jurassic World.

Ada kisah keluarga di sini tentang kakak yang semula cuek dan menemani adiknya hanya karena ditugaskan ibunya, tapi kemudian setelah melalui berbagai kejadian dia berusaha keras melindungi adiknya. Tentang seorang tante yang saking sibuknya, merasa cukup dengan memberi akses pengunjung VIP untuk dua keponakannya. Tapi akhirnya dia menyadari saat keadaan semakin tidak terkontrol, dia mengkhawatirkan kedua keponakannya.

Ada juga tokoh Owen Grady yang kereeen abis diperankan Chris Pratt, seorang pelatih velociraptor.

Situasi Jurassic World menjadi kacau gara-gara ada dinosaurus yang sudah dimodifikasi lebih besar, lebih pintar. Dinamakan Indominus Rex. (Namanya berbau2 nama Indonesia ya? :D). Ini asalnya T-rex yang digabung dengan beberapa DNA binatang purba lainnya, di antaranya DNA velociraptor. Bayangkan ada mahluk ganas yang besaaaar banget dan pintar. Bisa menjebak manusia. Bahkan bisa menyamar seperti bunglon. Ngeriiii. Susah banget dikalahkan.

Secara keseluruhan film ini sangaaat keren. Cuma ada satu hal yang agak mengganjal. Sepatu hak tinggi Claire. Kenapa mengganjal? Silakan tonton sendiri saja deh yaaa supaya nggak spoiler :D

Setelah selesai menonton, aku nggak sangka menemukan es krim Jeju di mal itu. Padahal sebelumnya aku cari-cari di mal lain nggak ada. Ketika aku duduk beristirahat di bangku yang tersedia di lobby bawah, voila! Es krim itu ada di depanku!

Sudah pernah nyoba es krim ini? Mmm.... enak juga. Rasa green tea dan yogurt


Kamis, 04 Juni 2015

Review Film : The Theory Of Everything

Photo from http://en.wikipedia.org/wiki/The_Theory_of_Everything_(2014_film)


Tak habis-habis merasa takjub melihat film yang diadaptasi dari kisah kehidupan Stephen Hawking, dari sebuah memoar yang ditulis mantan istrinya, Jane Wilde Hawking berjudul "Travelling to Infinity: My Life with Stephen.

Stephen adalah seorang jenius fisika yang sejak muda menderita penyakit yang menyerang sarafnya. Penyakit ini disebut motor neuron disease. Penyakit ini membuatnya lumpuh, tak bisa menggerakkan kaki, tangan, tak bisa bicara bahkan menelan.

Pertama kali dokter menjelaskan penyakitnya, ia divonis hanya akan hidup selama dua tahun lagi. Tapi Jane, seorang gadis yang baru ulai dekat dengannya tetap tak surut langkah walau Stephen sudah menjelaskan keadaannya, perlahan Stephen akan kehilangan kemampuannya berjalan, menggerakkan tangan, bahkan bicara. Jane tak peduli, ia tetap mau menikah dengan Stephen.

Mungkin cinta Jane, perhatian dan perawatannya, membuat Stephen mampu melewati batas hidup yang sudah divonis dokter. Stephen hidup hingga sekarang. Malah kemudian memiliki tiga orang anak.

Namun lama kelamaan, Jane merasa lelah juga. Dia harus mengerjakan semuanya. Merawat Stephen, dan merawat anak-anak mereka. Ibu Jane menyarankan Jane untuk ikut kegiatan di luar rumah agar ia tidak depresi. Ibu jane menyarankan Jane mengikuti paduan suara gereja. Di sanalah Jane bertemu dengan Jonathan, seorang pianis yang mengiringi paduan suara gereja.

Mulanya Jonathan sering datang ke rumah keluarga Hawking sekadar untuk membantu Jane mengurus Stephen. Namun terlalu sering bersama membuat Jane dan Jonathan mulai saling tertarik. Stephen pun sebenarnya memaklumi jika Jane meninggalkannya. Dia sadar dirinya tidak berdaya melindungi Jane, dia sangat bergantung Jane.

Keadaan Stephen semakin parah saat akhirnya ia kehilangan suara. Stephen bicara melalui komputer yang ia ketik setiap kata yang akan ia ucapkan.

Menonton film ini membuatku takjub, bagaimana Stephen masih terus berkarya, menghasilkan berbagai pemikiran, menerbitkan buku walau tubuhnya sudah tak bisa bergerak bahkan dia tak bisa bicara dengan pita suaranya sendiri.

Bagaimana Stephen Hawking telah membuktikan, tak ada yang tak mungkin jika seseorang ebanr-benar mau berjuang dalam hidupnya.

Dan Jane, betapa tangguhnya perempuan ini. Ia mau menerima Stephen apa pun keadaannya walau ia tahu risiko masa depannya seperti apa.

Walau akhirnya Jane dan Stephen berpisah, tapi Jane telah membuat Stephen bertahan hidup hingga hari ini. Bahkan bukan hanya sekadar bertahan hidup, tapi juga mengisi hidupnya dengan karya-karya spektakular yang bermanfaat bagi ilmu pengetahuan.

Eddie Redmayne berperan sebagai Stephen hawking dan mememangkan penghargaan Oscar 2015 sebagai best actor untuk aktingnya yang cemerlang.

Menonton film ini menyadarkan kita, bahwa tak ada manusia yang sempurna. namun yang etrpenting adalah bagaimana kita bisa melihat potensi diri dan kelebihan kita, dan menjadikannya sebagai sesuatu yang membuat hidup kita menjadi berarti.

Ayooo nonton ^_^