Minggu, 18 Januari 2015

Promo On Air "Pertemuan Jingga" di RRI Pro 1

Sabtu, 17 Januari 2014, aku kembali on air di RRI Pro 1 FM. Kali ini aku mempromosikan novel terbaruku "Pertemuan Jingga."



Karena tak ingin terlambat, pukul 4 sore aku sudah sampai di Halte Monas. Waah, terlalu cpat 1 jam, karena acara baru akan dimulai pukul 5.15 WIB.

Aku duduk sebentar di kursi halte. Kurang lebih selama 10 menit, barulah aku mulai melangkah menuju Gedung RRI di Jalan Merdeka Barat itu. Tidak terlalu jauh berjalan kaki. Aku senang sekali suasana daerah sekitar Monas ini. Rapi dan teratur. Andaikan semua jalan di Jakarta keadaannya seperti ini, betapa indahnya ibu kota ku tercinta ini.

Tersedia lampu hijau bagi pejalan kaki untuk menyeberang. Tinggal ditekan saja tombolnya, lampu hijau akan menyala, dan mobil pun berhenti memberi kesempatan kita menyeberang. Inilah fasilitas yang sangat pro pejalan kaki. Kami tak perlu capek naik tangga. Ramah pula bagi penyandang disabilitas.

Trotoarnya pun lebar. Kanan dan kiri rimbun dengan pepohonan. Tiap beberapa meter disediakan kursi. Rapi dan bersih sekali. Aaaah, nggak kalah dengan di negara maju. Sayangnya, fasilitas jalan seperti ini yang ramah kepada pejalan kaki belum bisa dipenuhi di semua jalanan ibu kota.


Senang sekali kali ini aku bisa menceritakan langsung pada para pendengar radio RRI Pro 1 tentang novel terbaruku ini. Mengupas habis Pertemuan Jingga mulai dari proses menulis, alasan judul, karakter-karakter tokohnya. Semoga banyak yang mendengarkan, aamiin.

Dalam acara ini juga ada kuisnya lho. Penyiar RRI Pro 1 Mas Yudhi Ismail memberi pertanyaan buat pendengar. Akan dipilih 2 pemenang untuk mendapatkan novel "Pertemuan Jingga" gratis. Asyik, kan?
Pertanyaannya gampang banget, ada hubungannya deh dengan yang aku bicarakan soal novel ini.


Tentu saja aku menyempatkan diri mejeng bareng novelku Pertemuan Jingga di sela-sela on air.


Tak disangka, saat aku sudah hampir selesai, ada temanku penulis juga yang datang mau promo untuk jam berikutnya. Waah, jadilah kami foto-foto di Gedung RRI ini. Asyiiik. ^_^

Makin lama aku makin suka promo radio. Bisa menjelaskan tentang novelku lebih rinci. Tunggu promo radio selanjutnya ya untuk novelku yang terbit Februari nanti.

Mejeng depan studio bareng sang penyiar Mas Yudhi Ismail

Ga sangka ketemu Poppy dan Widi. Jadi bisa narsis di lobi ^_^

Sabtu, 03 Januari 2015

Rindu kami padamu Ya Rasul

Postingan pertama di tahun 2015, bertepatan dengan 12 Rabiul Awal. Teirngat ini adalah hari kelahiran Nabi Muhammad utusan Allah, Rasulullah.



Mari mengirim doa untuk Rasulullah, seorang yang penuh cinta dan kasih pada umatnya, bukan hanya muslim tapi semua manusia dicintai dan dipedulikannya.

Tiap kali membaca kisah Rasulullah aku selalu terharu. Justru karena beliau seorang yang penuh kasih kepada siapa pun, tak pandang agamanya apa, kaya atau miskin.

Dan bagiku, lagu Rindu Rasul yang dinyanyikan Bimbo selalu saja bisa membuatku merinding tiap kali mendengarnya, dalam arti seolah ikut merasakan kerinduan kepada sosok Rasulullah yang penuh kasih.

Semoga kita bisa meneladani beliau, penuh kasih kepada sesama tak pandang siapa. Karena Islam adalah Rahmatan Lil 'Alamin. Rahmat bagi semua manusia, bukan hanya untuk umat Islam saja.

Allah mengasihi semua mahluk-Nya dan Rasulullah telah memberi contoh bagaimana seseorang selayaknya memperlakukan orang lain. Hendaknya penuh kasih dan sayang, hindari saling berkata menyakitkan satu sama lain.

RINDU RASUL by Bimbo

Rindu kami padamu Ya Rasul
Rindu tiada terperi
Berabad jarak darimu Ya Rasul
Serasa dikau di sini

Cinta ikhlasmu pada manusia
Bagai cahaya surga
Dapatkah kami membalas cintamu
Secara bersahaja


Rabu, 31 Desember 2014

My 2014 Moments

Selamat tinggal 2014 ...

Tahun ini aku hanya menulis novel dan hanya menerbitkan 5 novel. Lebih sedikit dari tahun lalu, tapi semoga lebih baik dari sebelumnya. Tidak ada cerpen yang kutulis, tak ada juga naskah untuk antologi. Untuk sementara ini sepertinya aku sedang senang menulis kisah-kisah panjang.

Alhamdulillah, beberapa mimpiku terwujud, tahun ini bisa menerbitkan 5 novelku di penerbit-penerbit idamanku.

Dan kejutan menghampiri novel "Tahajud Cinta Di Kota New York". Alhamdulillah, rezeki tak terduga dari Allah. Terima kasih kuucapkan untuk semua teman-teman penulis, pembaca, saudara (tak akan cukup bila kusebutkan namanya satu-satu persatu karena banyak banget ;)) yang selalu mendukung dan memberi semangat.



Terima kasih untuk editor-editor kece yang telah memberiku kesempatan, terima kasih untuk penerbit-penerbit keren Gramedia Pustaka Utama, GagasMedia, Elex Media, Zettu. Sahabat-sahabat Kinomedia Writer Academy (KWA) dan semua yang telah mengiringi perjalanan jungkir balikku hingga akhirnya aku bisa mencapai semua ini. Terima kasih telah memberiku kesempatan untuk terus berkarya. Menulis dan terus menulis.



Selamat datang 2015 ...

Rencana untuk tahun depan tetap tidak berubah. Terus menulis, menulis dan menulis. Coming soon, dua novel di awal-awal bulan, semoga bisa menghibur dan memberi manfaat untuk yang membacanya.
Bismillah ...

Rabu, 24 Desember 2014

Review Film : Pendekar Tongkat Emas

Ini adalah film yang paling kunanti-nantikan sepanjang tahun ini, karena sudah gencar diberitakan sejak baru persiapan syuting. Yang bikin aku pengiiin banget nonton apalagi kalau bukan karena pemainnya Nicholas Saputra, aktor Indonesia favoritku. Selain itu, rasanya sudah lamaaaa sekali nggak melihat aksi Mas Nico di layar lebar.

Semula aku berharap bisa beruntung mendapat kesempatan nonton premiere filmnya, lumayan kan bisa ketemu Nico langsung. Tapi apa daya, nggak beruntung menonton premierenya, akhirnya nonton sendiri saja deh di studio XXI terdekat dari rumah, di Puri Mal Jakarta Barat.

Aku memilih menonton di hari senin tanggal 22 Desember di jam pertama pukul 12.15. Harapanku supaya nggak perlu antri lama, karena bertepatan dengan liburan anak sekolah, pasti mal bakal penuh deh.

Mungkin karena jam pertama, penonton nggak terlalu penuh, tapi lumayan deh, kudoakan film Pendekar Tongkat Emas ini sukses banyak penontonnya.

Wah, akhirnya dapat tiketnya ^_^
Posternya aja keren, apalagi filmnya ^_^

Film dibuka dengan hamparan pemandangan indah, tentunya dari yang kubaca aku tahu tempat syuting film ini di tanah Sumba, walau di dalam film diceritakan sebagai negeri antah berantah.

Dimulai dengan Cempaka guru silat wanita yang diperankan aktris senior Christine Hakim yang seperti biasa aktingnya cemerlang. Guru Cempaka memperkenalkan satu persatu murid-muridnya kepada penonton.

Awal cerita berjalan agak lambat, walau menyuguhkan adegan pertarungan dalam kompetisi yang diadakan tiap tahun. Cempaka melarang murid-muridnya untuk ikut dalam kompetisi itu, dia hanya mengirim muridnya yang paling senior, Biru dan Gerhana untuk mengucapkan selamat kepada perguruan silat yang menjadi pemenang.

Biru dan Gerhana adalah anak musuh Cempaka yang kemudian dijadikan murid untuk menebus kesalahannya. Kesabaran Biru dan Gerhana akhirnya habis juga saat Cempaka ternyata menyerahkan tongkat emas sakti untuk Dara, padahal Biru sudah yakin sekali, dialah yang akan meneruskan memegang tongkat emas itu. Tentu saja Biru dan Gerhana tidak diam saja menghadapi kenyataan Dara yang mewarisi tongkat emas itu. Biru dan Gerhana  berusaha merebut tongkat emas itu dari Dara.

Sejujurnya, aku nggak sabar menunggu kemunculan tokoh yang diperankan Nicholas Saputra, hehehe. Penasaran, seperti apa sih sosok Elang di film ini.

Setelah sabar menunggu, dan disuguhkan akting Reza Rahardian sebagai Biru yang brilian seperti biasanya, akhirnya muncul juga sosok Elang.

Karakter Elang mengingatkan aku pada karakter Rangga di film AADC, menurutku bukan karena Nico nggak bisa move on dari karakter perdananya dulu, tapi kenyataannya kali ini Nicholas Saputra memang diberikan peran yang nggak berbeda jauh dengan perannya dulu sebagai Rangga. Sosok lelaki misterius, nggak banyak omong, cool, menyimpan rahasia masa lalu, tapi sebenarnya berilmu tinggi. Karakter seperti ini memang paaaas banget diperankan Nico yang sepertinya memang cool beneran. I love it. Langsung jatuh cinta ^_^

Dalam film ini, misterius banget deh siapa sosok Elang sebenarnya, pelan-pelan penonton akhirnya tahu, siapa sesungguhnya Elang. Elang juga dihadapkan pada dilema antara menolong Dara atau melanggar sumpahnya.

Ada kemunculan sekilas tapi berarti Prisia Nasution sebagai Cempaka muda dalam adegan kilas balik dan Darius Sinathrya sebagai ... ah, nonton sendiri aja yaaa :D

Reza Rahardian menurutku sukses memerankan sosok Biru, seorang pendekar yang ambisius ingin menjadi pendekar silat terhebat di dunia persilatan. Rela melakukan apa saja, dengan cara licik dan kejam sekali pun demi memenuhi ambisinya. Kuakui, Reza aktor yang selalu sukses memerankan karakter apa saja. Jadi penjahat pun bisa terlihat menyebalkan, tanda dia berhasil lebur dalam karakter yang diperankannya.

Sementara Eva Celia sebagai Dara, mampu menunjukkan tokoh Dara yang memang belum terlalu mahir dalam ilmu bela diri, belia dan belum banyak pengalaman.

Yang juga menarik perhatian adalah tokoh Angin yang mengingatkan aku pada aktor silat cilik Hongkong yang sering menemani Bobo Ho, tapi aku lupa namanya ^_^

Adegan perkelahian cukup bagus, mengingat semua pemeran bukanlah ahli bela diri asli. Walau aku pernah nonton salah satu wawancara Nico katanya Nico hobi bela diri juga?

Memang belum bisa dibandingkan dengan film silat Hongkong, tapi untuk ukuran film Indonesia, aku memberi penghargaan setinggi-tingginya dengan keberanian Mira Lesmana dan Riri Reza untuk membuat film bergenre silat seperti ini. Sungguh bagai oase di antara film-film Indonesia yang nyaris seragam.

Kelebihan utama film ini, tentunya sinematografinya yang spektakuler, meng-ekspose keindahan tanah Sumba, sekaligus memperkenalkan tenunnya dalam wardrobe pemain-pemainnya. Ini adalah kelebihan Mira Lesmana dan Riri Reza lainnya, selalu memanfaatkan karya film mereka untuk juga mempromosikan potensi keindahan salah satu wilayah Indonesia, menyusul kesuksesan mengangkat nama Belitong dalam Film Laskar Pelangi.

Semoga dengan adanya film ini, wisata ke tanah Sumba menjadi semakin maju, banyak yang tertarik datang ke sana. Tur wisata ke tempat syuting film Pendekar Tongkat Emas bisa menjadi daya tarik wisatawan berkunjung ke tempat ini.

Cerita film ini diakhiri menggantung, sangat terbuka untuk dibuat sekuelnya. Mungkin suatu saat nanti Mira Lesmana dan Riri Reza berniat membuat lanjutan film ini. Tentunya aku akan senang sekali karena bisa melihat aksi Nicholas Saputra lagi ^_^.

Oya, karena promosiku tentang film ini ke adikku, esok harinya adikku juga menonton film ini bersama kekasihnya.

Tiket adikku dan kekasihnya ^_^



Yang belum nonton film ini, yuk buruan nonton. Rugi deh kalau nggak nonton di bioskop. Karena pemandangan alamnya yang spektakuler dan adegan silatnya lebih menarik jika ditonton di bioskop yang berlayar lebar.

Oya, ada satu yang menurutku kurang, aku mengira lagu soundtrack film ini "Fly My Eagle" yang dinyanyikan Anggun C. Sasmi akan diperdengarkan di akhir film mengiringi subtitle, tapi setelah kutunggu hingga subtitle habis, ternyata nggak ada vokal Anggun C. Sasmi menyanyikan ost film ini :(

Anyway, aku doakan film ini bertahan di bioskop hingga Januari, kalau masih ada aku pengin nonton lagi deh.

Salam buat Nicholas Saputra yaa, eh, Elang ... fly my eagle fly ... ^_^

Oya, aku pengin sedikit norak-norak bergembira ah. Akhirnya mentionku di-RT Nicholas Saputra. Waah, senangnya bukan main. Walau cuma di RT doang ^_^