Sabtu, 26 Juli 2014

Kenangan Ramadan : Ada Paris dan Jerman di Jogja?

Ramadan hampir berakhir, dua hari lagi Hari Raya Idul Fitri.

Sebelum lebaran, aku ingin berbagi kisah pengalamanku saat merasakan ramadan di Jogja.

Tahun 2006 paska gempa dahsyat di Jogja, aku mendapat kesempatan ditugaskan di kota eksotis itu. Aku senang sekali, bukan hanya karena aku cinta kota Gudeg itu, tapi juga karena di sanalah daerah asal muasal keluargaku.

Ibuku lahir dan besar di desa Janten, sebuah desa yang terletak di Kabupaten Kulon Progo, Jogjakarta. Memang cukup jauh dari Kota Jogja, butuh waktu satu jam perjalanan dengan kendaraan bermotor untuk mencapai Kota Jogja dari Desa Janten.

Rumah peninggakan Mbahku di Desa Janten, Temon, Kulon Progo
Tempat kami berkumpul setiap kali pulang kampung

Ditugaskan di Kota Jogja, berarti aku punya kesempatan untuk mengunjungi saudara dan kerabatku di Kulon Progo. Ada seorang bulikku dengan dua anak perempuannya yang tinggal di sana. Juga nenekku yang ketika itu sedang sakit.

“Jangan lupa, sering-sering menengok Mbah Widi.” pesan Ibuku.

Mbah Widi adalah sebutanku untuk nenekku dari pihak Bapakku. Hanya beliau satu-satunya nenek yang ketika itu masih aku punya.

Aku mengangguk. Pasti aku akan mengunjungi beliau. Karena selama ini aku sibuk bekerja di Jakarta, hanya setahun sekali aku punya kesempatan mengunjungi saudara dan kerabatku di Desa Janten. Dan kali ini adalah kesempatan langka aku ditugaskan di Kota Jogja, kota favoritku.

Kantor tempatku bekerja di Jakarta, bergerak dibidang konsultan desain. Setelah musibah gempa di Jogja itu, kantorku mendapat beberapa proyek untuk merenovasi bangunan-bangunan Departemen Perindustrian yang rusak akibat gempa. Aku ditugaskan bersama empat orang temanku. Kantor kami menyewakan sebuah rumah di kota Jogja untuk tempat kami tinggal dan bekerja selama bertugas di Jogja.

Kami terenyuh meyaksikan bangunan-bangunan yang rusak akibat gempa dahsyat dulu itu. Banyak masyarakat yang kehilangan rumah, terutama di daerah Bantul. Gedung-gedung Departemen Perindustrian yang harus kami renovasi juga rusak cukup parah dan sangat rentan bahaya. Harus segera direnovasi jika ingin tetap dipakai untuk kegiatan mereka sehari-hari. Aku dan keempat temanku membagi-bagi tugas, karena ada banyak gedung yang harus kami survei di lokasi yang berbeda. Tapi terkadang kami survei bersama-sama. Hingga memasuki masa Ramadhan, kami masih bertugas di Jogja.

Waktu berpuasa menjadi tak terasa karena kami semua sibuk bekerja. Kami  membuat jadwal, kapan hari untuk survei lokasi, kapan presentasi, dan kapan waktu mengerjakan gambar-gambar perencanaan dan gambar kerja serta membuat proposal.

Aku bertugas sebagai arsitek, yang membuat konsep dan gambar perencanaan. Dibantu dua temanku, Yana dan Dika yang membuat gambar kerja. Kiki kebagian tugas membuat rencana anggaran biaya. Sementara Mas Egoy bertugas menyusun proposal proyek renovasi bangunan-bangunan itu.
Kami sepakat, selama bulan puasa itu, kami hanya bekerja hingga pukul empat sore. Sesudah itu kami bersiap-siap menyambut waktu berbuka. Selama di Jogja, kami mencoba beberapa tempat yang dikenal sebagai tempat mencari makanan berbuka.

Seperti di pasar kota Gede, yang jaraknya lumayan dekat dari rumah kontrakan kami, aku merasakan sensasi yang berbeda berburu makanan berbuka di sebuah pasar di Kota Jogja. tentunya sangat berbeda dengan yang biasa aku santap di Jakarta. Ada gethuk, makanan dari singkong yang direbus, ditumbuk bersama gula. Ada tempe benguk, tempe bacem terbuat dari kacang benguk. Hm, cukup lucu ya namanya?
Kadang kami mencari makanan untuk berbuka di Jerman. Tak terbayang ada Jerman di kota Jogja, kan?

Tapi Jerman yang ada di Jogja, tentulah berbeda dengan Jerman yang ada di Eropa. Jerman di Jogja adalah singkatan dari Jejer Kauman. Kauman adalah sebuah daerah di kota Jogja. Ada sebuah gang terkenal di daerah itu yang setiap bulan puasa, menjelang berbuka dipenuhi oleh penjual makanan berbuka yang berjejer menggelar dagangannya di sepanjang gang itu. Karena itulah disebut Jejer Kauman. Masyarakat Jogja memang suka sekali membuat singkatan-singkatan yang terdengar unik, seperti Jejer Kauman disingkat Jerman.

Kami juga pernah berbuka puasa di Paris. Aneh ada Paris di Jogja? Paris di sini adalah Pantai Parangtritis. Begitulah masyarakat Jogja, senang sekali menciptakan singkatan nama sebuah lokasi hingga terdengar unik. Ini salah satu hal yang kukagumi dari kreatifitas masyarakat Jogja yang memang sebagian besar masih berjiwa seni tinggi dan lekat dengan budaya setempat dalam keseharian mereka.

Di daerah Paris, ada namanya Pantai Depok yang menjadi pusat penjualan ikan segar yang kangsung dibawa dari laut, hasil tangkapan nelayan seperti ikan, kepiting, lobster, udang, cumi. Di sini, kami bisa memilih dan membeli langsung bermacam-macam hasil laut yang kami inginkan. lalu kami bawa ke pondok-pondok yang menyediakan jasa memasakkan ikan menjadi masakan seafood lezat, seperti cumi saos tiram, kepiting saos Padang, ikan Kuwe bakar.

Ada bayi hiu juga di sana! Ugh, karena penasaran dengan rasa hiu, hewan yang eksotis itu, maka aku pun membeli seekor untuk di panggang dan dimakan dengan sambal kecap. Nikmat juga rasanya! Total harga semuanya jauh lebih murah daripada masakan seafood di Jakarta. Kami pun puas dan kenyang!

Tapi sekarang aku sadar, sebaiknya ikan hiu (kalau memang benar itu ikan hiu) jangan ditangkap sembarangan. Biarkan mereka tumbuh tanpa diusik. Karena perkembangan mereka tentunya tidak semudah ikan lain yang biasa dikonsumsi manusia (benar nggak ya?)

Selama masa tugasku di Jogja, aku sempatkan untuk mengunjungi nenekku, Mbah Widi, yang tinggal di Desa Kulur, juga di Kabupaten Kulon Progo, Jogjakarta. Lokasinya sangat jauh dari Kota Jogja. Di sini juga bapakku menghabiskan masa kecilnya. Jadi bisa dibilang bapak dan ibuku tetanggan deh, sama-sama tinggal di Kabupaten Kulon Progo hanya beda desa.

Aku minta diantar sepupuku Mei untuk mencapai rumah Mbah Widi. Jalan menuju ke sana belum beraspal dan sedikit mendaki. Tetapi sesampai di sana, aku mendapatkan pemandangan yang luar biasa indahnya. Sawah hijau membentang di lereng bukit Jeruk, salah satu bukit yang terdapat dalam jejeran bukit Menoreh. Oh, indahnya! Udaranya pun masih terasa sejuk dan segar. Bebas polusi!

Ketika itu Mbah Widi terlihat lebih sehat, walau beliau sudah tak mampu lagi berdiri dan berjalan. Usianya telah mencapai tujuh puluh enam tahun. Mbah Widi dirawat oleh bulikku, Bulik Pri. Aku senang sekali melihat rona senang di wajah Mbah Widi ketika melihatku datang.

“Ealah, lama nggak kelihatan cucu Mbah...”sambut Mbah Widi, senyumnya memperlihatkan giginya telah banyak yang tanggal.

Aku menghampirinya dengan senyum tak kalah sumringah, kucium punggung tangan kanannya, lalu kukecup pipi kanan dan kirinya.

“Maaf, Mbah, aku baru sempat berkunjung sekarang.” ucapku lembut sedikit merasa bersalah.

“Cucu Mbah ini sibuk cari duit...” kata Mbah Widi lagi, senyumnya semakin lebar, ompongnya semakin jelas terlihat.

Melihat kerentaannya, membuat rasa bersalahku semakin berlipat. Rambutnya telah semua memutih. Aku bekerja jauh di Jakarta dan tiap hari tenggelam dalam kesibukkanku menjalani tugas kantor, hingga hanya mendapat kesempatan berkunjung setahun sekali. Ini pun kebetulan aku ditugaskan di Jogja, jika tidak, maka aku hanya berkunjung menjelang hari raya Idul Fitri saja.

Aku sadari saat itu, karena Mbah Widilah maka aku hadir di dunia ini sebagai keturunannya. Semoga tak kulupakan itu, tak membuatku lantas alpa untuk memperhatikan beliau. Hari itu aku tak menginap. Sorenya aku harus kembali ke Kota Jogja, kembali berkutat dengan tugas-tugas kerjaku. Tapi aku berjanji kepada Mbah Widi dan pada diriku sendiri, selama aku bertugas di Jogja, aku akan sering mengunjunginya.

Sudah sebulan lebih aku bertugas di Jogja ketika menjelang bulan puasa yang hampir habis, aku mendengar kabar dari Bulik Pri bahwa Mbah Widi kembali terserang sesak nafas dan kemudian dirawat di Rumah Sakit yang cukup jauh dari rumah walau pun masih di kabupaten Kulon Progo. Aku segera meminta ijin teman-temanku yang juga bertugas bersama untuk kembali mengunjungi Mbah Widi. Aku tak menyangka teman-temanku justru menawarkan untuk ikut berkunjung. Maka, berangkatlah kami bersama ke Rumah Sakit Daerah Wates, di Kulon Progo.

Kami berangkat menjelang sore dan sampai di rumah sakit itu sesudah magrib. Sungguh aku menyesal karena tak datang lebih cepat, kawan! Aku terlambat hanya beberapa menit. Mbah Widi telah selesai menghembuskan nafasnya terakhir begitu aku menjejakkan kaki di kamarnya di rumah sakit itu. Aku terkejut melihat ada sesosok tubuh yang ditutupi selimut putih hingga ke wajahnya. Bulik Pri dan beberapa kerabatku yang lain telah berkumpul di sekeliling tubuh berselimut itu. Aku disambut dengan kalimat Bulik Pri yang mengejutkan.

“Rum, Mbah Widi udah nggak ada...”

Aku sedih karena datang terlambat. Menyesal tak datang sejak pagi. Tak kusangka kepergian Mbah Widi begitu cepat, padahal baru satu minggu sebelumnya aku mengunjunginya dan beliau terlihat masih sehat. Memang jika Allah sudah berkehendak, tak ada yang bisa kita lakukan kecuali menerima ketetapan-Nya dengan hati ikhlas.

Malam itu aku mengantar jenazah Mbah Widi kembali ke Desa Kulur. Aku ikut memandikan jenazahnya malam itu juga. Teman-temanku masih setia menemaniku di sana. Karena rumah Mbahku mendadak menjadi banyak orang, maka kami berlima tidur berdesakan dalam mobil kantor yang dibawa temanku. Untunglah mobil itu lumayan lega.

Keesokan paginya, saudara dan kerabatku dari Jakarta termasuk Bapakku datang juga ke rumah Mbah Widi. Bersama-sama kami mengantarkan jenazahnya ke tempat peristirahatannya yang terakhir. Dua hari kemudian saudara, kerabat dan Bapakku kembali ke Jakarta, sementara aku kembali ke Kota Jogja melanjutkan tugasku.

Tiga hari sebelum Idul Fitri, aku dan empat temanku kembali ke Jakarta. Kami memilih merayakan lebaran di Ibukota. Tahun itu adalah bulan Ramadhan yang paling berkesan sekaligus mengharukan buatku, karena saat itu adalah pertama kali aku menjalani Ramadhan jauh dari Bapak, Ibu dan adik-adikku. Juga karena Ramadhan tahun itu aku kehilangan Mbah Widi, nenekku yang terakhir. Semoga arwah beliau mendapatkan tempat terbaik di sisi Allah SWT, terutama karena beliau wafat di bulan suci Ramadhan, bulan penuh ampunan. Aamiin.

Jumat, 25 Juli 2014

Sunday Meeting dan Buka Bersama Gagas Media

Minggu, 12 juli 2014 ...

Aku semangat banget menghadiri undangan dari Gagas Media yang telah menerbitkan novel terbaruku, "Monte Carlo".

Setelah selama ini aku selalu berhalangan hadir dalam setiap acara yang diadakan Gagas Media, kali ini aku bertekad akan datang. Pertama, tentunya karena kini aku telah menjadi bagian dari keluarga besar Gagas Media.

Untunglah tempat berkumpul bersama Gagas ini sudah kukenal, aku pernah ke tempat ini saat ada pertemuan sesama fans Kpop Bigbang. ^_^



Senang, akhirnya aku bisa bertemu jajaran editor-editor keren Gagas Media, yang selama ini baru aku tahu namanya dan baru follow twiiternya. 

Ketemu Mbak Iwied, Mbak Resita, Mbak Michan, Mas Jumali, Mas Jeffri, Mas Edo ... aah banyak banget deh ... ada juga Raditya Dika pentolan Bukune dan Moamar MK pemred Enter Media. Ini kumpul-kumpul Gagas Grup yang terdiri dari Gagas Media, Bukune, Panda Media dan Enter Media. 

Rameee deh. Menurutku, jajaran tim redaksi Gagas Grup ini dapat disimpulkan dalam satu kata "KREATIF".

Suasana di Ragoon restoran. Para penulis Gagas grup asyik menyimak presentasi tentang eBook.

Ini dia jajaran redaksi Gagas grup

Sebelumnya kami dijelaskan tentang eBook. Bahwa ke depan nanti, eBook akan semakin maju. Karena itu, Gagas Grup juga mulai menerbitkan buku-buku dalam bentuk eBook. Dipaparkan apa saja keuntungan eBook bagi pembaca mau pun bagi penulis. Semoga eBook buku-buku kami laris manis juga, aamiin ^_^

Setelah itu, maju Benakribo, seorang blogger muda yang super duper kreatif, yang kemudian postingan-postingan di blognya dibukukan dengan judul Benakribo. Cowok kreatif ini menjelaskan cara keren memanfaatkan secara maksimal media sosial untuk promosi buku. Salah satunya lewat video di youtube dan instagram. 

Waaaah, aku salut deh dengan ide-ide ajaib Benakribo. Membuka mataku akan perlunya berpikir out of the box.

Ini dia Benakribo. Kurang jelas ya fotonyaa

Awalnya aku agak khawatir saat akan datang ke acara ini karena aku belum pernah bertemu teman-teman di Grup Gagas. Tapi begitu masuk ke restoran, Mas Jeffri langsung menyambut dan nanya aku siapa. 

Saat kubilang, "Aku Arumi." 

Beliau menjawab,"Oh, Mbak Arumi. Pantas familiar."

Yup, sebelumnya kami sudah beberapa kali whatsapp-an soal bukuku. :)

Mas Jeffri ini desainer kreatif buku-buku Gagas. 

Lalu ada Sefryana Khairil yang langsung menyambutku dengan senyum khasnya. Ah, masih ingat saja sama aku padahal kami baru sekali ketemu setahun yang lalu. Nggak sangka, penulis top seperti Sefry yang novelnya sudah banyak terbit di Gagas ramah banget menyapaku. Aku jadi merasa lega. Kami memilih duduk berdekatan dan ngobrol macam-macam, sampai kemudian nggak sadar kami saling curhat, hehehe. Seru deh. 

Aku juga ketemu penulis top Orizuka loh, ternyata masih imuut ^_^

Taraaa, kami semua foto bareng. Penulis dan tim redaksi

Dan ... aku masih dapat kejutan tak terduga. Aku dapat doorprize satu set cangkir teh cantik. Wuuiiih, perfek banget deh hari itu. 

Terima kasih Gagas Media sudah mengundangku ke acara keren ini. 

Nggak sabar deh bukuku terbit lagi di Gagas Media ^_^

Hadiah doorprize-nya cantik kan? Buat menyuguhkan minum tamu saat lebaran nanti ^_^

Jangan lupa yaaa, yang belum punya novel terbaruku terbitan Gagas Media, yuuuk diserbu, #MonteCarlo  ^_^ 






Sabtu, 19 Juli 2014

Promo on air : "Tahajud Cinta di Kota New York" dan "Hatiku Memilihmu" di RRI

Hello again ... ^_^

Setelah sebelumnya aku bercerita pengalamanku on air di RRI, Mas Yudi Ismail sang penyiar RRI menawarkan aku untuk lagi-lagi memperbincangkan novelku yang lainnya dalam acara "Cakrawala Pustaka Ramadan" di RRI.

Kali ini berbeda dengan sebelumnya. perbincanganku dengan Mas Yudi akan direkam, kemudian akan disiarkan melalui RRI Pro 1, Pro 2 dan Pro 4 pukul 01.30 dini hari.

Selain itu, untuk acara ini yang dibahas khusus novel Islami. Karena aku telah menerbitkan dua novel Islami, maka aku ditawarkan untuk memperbincangkan kedua novel ini, "Tahajud Cinta di Kota New York" dan "Hatiku Memilihmu".

Selasa, 15 Juli 2014, aku diminta datang pagi-pagi sekali kurang lebih antara jam 8.00 - 9.00 WIB. Wah, aku semangat banget ingin rekaman di RRI. Antusias, dan teringat motto RRI, "Sekali di udara, tetap di udara."

Yeay, ke RRI lagi. Ini lobby Gedung RRI

Keren juga kan lobby Gedung RRI  ^_^

Aku sampai di RRI pukul 08.00 tepat. Kok  bisa cepat? Karena aku nebeng adikku yang kantornya nggak jauh dari daerah ini, hehehe.

Oya, alamat RRI ini di Jl. Merdeka Barat, sebelahan dengan Gedung MK, seberangnya Monas. Mudaaah banget dijangkau deh. Aku jadi suka ke sini ^_^

Ternyata Mas Yudi Ismail baru datang pukul 9.30 WIB. Lumayan deh nunggunya. Sambil nunggu aku berusaha berfoto selfie supaya ada bukti aku ke sini. Tapi ternyata susah juga yaaa... Pengin minta fotoin malu, hehehe. Ya sudah, aku foto sendiri saja. Padahal aku lihat ada sepasang suami istri setengah baya yang asyik saling foto di lobi RRI. mereka juga bergaya di samping patung apa ya namanya? aku lupa ... hehehe. sayang nggak aku foto, aku malu sama mbak resepsionis kalau terlihat moto-moto.

Satu-satunya foto sukses yang membuktikan i was here, in RRI  ^_^
Rekaman tidak berlangsung lama. Keduanya berjalan lancar. Perbincangan tentang novel islami "Tahajud Cinta di Kota New York" sudah disiarkan tanggal 17 Juli 2014 pukul 01.30 WIB. di akhir acara ada kuis berhadiah 2 novelnya.



Begitu pula dengan "Hatiku Memilihmu" ada 2 novel yang disiapkan untuk pemenang kuisnya.



Ah, ternyata cuap-cuap di radio menyenangkan juga. Tunggu ya, selanjutnya aku akan diajak mengisi acara bincang-bincang radio lagi di Bandung bulan Agustus nanti.
Waaaw, asyiiiik, promo on air sambil jalan-jalan ke Bandung ^_^

Oleh2 dari RRI nemu pengumuman ini ^_^

Ternyata lomba menulis dongeng ini khusus buat anak-anak  >.<




Jumat, 18 Juli 2014

Promo on air : "Monte Carlo" di RR1 Pro 1 FM

Halooo teman-teman! Apa kabar di bulan Juli ini. Lama baru sempat menulis lagi.

Kali ini aku mau berbagi pengalamanku saat promo on air di RRI Pro 1 FM. Nah, siapa yang baru tau kalau ternyata RRI itu bukan cuma ada Pro2, tapi ada Pro 1 dan Pro 4, juga ada siaran RRI luar negeri. Hebat yaaa ... ^_^

Ini dia Gedung RRI, gedung bersejarah yang masih berdiri kokoh hingga sekarang

Welcome to Radio Republik Indonesia
Aku akan mengudara dalam acara Cakrawala Pustaka RRI Pro 1 FM. Memperbincangkan tentang novel terbaruku #MonteCarlo.

Penyiar yang akan memanduku adalah Mas Yudi Ismail. Siapa yang sudah sering mendengarkan siaran beliau?

Obrolan kami berlangsung seru. Mas Yudi piawai banget membuat aku bisa bercerita dengan lancar, mulai dari proses penulisan Monte Carlo, sampai proses terbitnya, juga apa isi novel ini.

Pengalamanku yang kedua kali cuap-cuap di radio ini, sudah agak lumayan, nggak grogi lagi seperti saat pertama kali dulu. Di akhir acara, seperti biasa, ada kuis berhadiah 2 novel Monte Carlo. Naaah, siapa yang sabtu 12 Juli 2014 kemnarin mendengarkan siaranku ini dan berhasil mendapatkan hadiahnya? Selamat yaaa ^_^


Ini dia ruang studio programa 1


Ini dia novel Monte Carlo yang kemarin asyik kami obrolin