Rabu, 22 Oktober 2014

Inspirasi Menulis : Yakin dengan kemampuan diri, disiplin dan berani

Dear friends ...

Seringkali aku ditanya, bagaimana cara mengobarkan motivasi menulis? Bagaimana cara produktif menulis? dan sebagainya dan sebagainya ...

Karena itu, di sini aku berbagi jawaban-jawabanku saat ditanya Mbak Arimbi Bimoseno, seorang penulis juga. Ini termuat di kompasiana, tapi aku sempurnakan lagi jawaban-jawabanku agar lebih detail.

Novel Arumi semuanya untuk remaja. 14 judul novel itu (dari yang pertama sampai yang terbaru) adalah Saranghaeyo, Four Seasons of Love, Symphony of Love, Sweet Sonata, Sakura Wish, Cinta Bersemi di Putih Abu-abu, Amsterdam Ik Hou Van Je, Longest Love Letter, Jojoba, Tahajud Cinta Di Kota New York, Hatiku Memilihmu, Monte Carlo, Cinta Valenia, Unforgotten Dream.

Di antara 14 novel itu, sejauh ini yang paling best seller adalah Tahajud Cinta Di Kota New York (416 halaman) karena terbit sejak April 2014 dan masih terpajang di toko buku hingga sekarang. Novel ini pun akan diadaptasi menjadi film oleh MD Pictures.

Tiga novel yang akan terbit juga tahun ini; Pertemuan Jingga (penerbit GPU), Kutukan Diari Kembar (penerbit Bukune), dan Eleanor (penerbit GPU – akhir tahun ini atau awal tahun depan).

Sebelum sampai pada pembuatan novel, Arumi sempat melewati tahapan menulis cerpen dan dimuat di beberapa majalah nasional, kemudian menulis buku antologi keroyokan, lalu menerbitkan kumpulan cerpen solo : Heart Latte dan Zara Detektif Cilik.





BINCANG-BINCANG DENGAN ARUMI

-

Siapa kamu, Arumi?

Aku tadinya arsitek. Terakhir berhenti bekerja jadi arsitek tahun 2010. Karena kantorku bermasalah dan kolaps, lalu aku malas cari kerja lagi, selain aku mulai jenuh jadi pegawai. Selama masa bekerja, aku sudah menulis cerpen dan sering dimuat di berbagai majalah remaja dan majalah anak. Kira-kira sudah ada 60 cerpenku yang dimuat. Tahun 2011 aku dapat tantangan membuat novel cerita Korea. Itulah mulanya aku bikin novel. Ternyata keasyikan. Akhirnya aku memutuskan fokus menjadi penulis novel. Apalagi sekarang ini order menulis selalu ada, jadi aku nggak kehabisan kerjaan menulis. Selalu saja ada yang harus kutulis. Biasanya aku sudah punya jadwal dalam setahun akan membuat berapa novel dan akan kuberikan ke penerbit mana.

Bagaimana cara kerja kamu?

Aku menetapkan jadwal seperti orang kerja kantoran. Jadi, mau tidak mau harus menghasilkan tulisan setiap hari.

Saat ini karena sudah terbit di beberapa penerbit, editor-editor yang menunggu aku kirim naskah. Karena itu aku harus menulis setiap hari. Editor ada yang kasih deadline, ada yang kasih kelonggaran. Ada yang deadline-nya sebulan, ada yang dua bulan. Kutukan Diari Kembar aku tulis cuma 10 hari karena saat aku terima order, aku harus keluar kota selama seminggu, baru bisa kukerjakan 10 hari sebelum deadline.

Aku bikin jadwal seperti orang kerja umumnya. Mulai standby di depan laptop jam 9 pagi. Jam 12 sampai jam setengah 2 istirahat, lalu lanjut lagi sampai jam 5 sore. Malamnya tergantung mood, kalau lagi banyak ide aku lanjutkan, kalau nggak ya nggak usah. Terkadang kalau deadline tinggal 2-3 hari lagi dan cerita yang kutulis belum selesai, barulah aku begadang. Terus menulis dari pagi sampai pagi lagi.

Aku mendisiplinkan diri, jam yang wajib diisi dengan menulis mulai pukul 9 pagi sampai pukul 5 sore. Saat  malam bukan keharusan, kecuali memang butuh begadang untuk mengejar target selesai atau saat kepala dipenuhi banyak ide yang tak bisa menunggu hingga esok pagi.

Menulis kemudian dikirim ke penerbit, atau menulis atas permintaan penerbit?

Sekarang ini aku sudah dikenal beberapa editor. Biasanya aku kirim outline ke mereka, kalau disetujui baru aku selesaikan. Ada juga tema tulisan yang diorder khusus oleh editor.

Adakah gangguan dalam menulis novel?

Biasanya kalau semua kelengkapan apa yang ingin aku tulis sudah lengkap, nggak ada gangguan. Selama ini aku selalu bisa memenuhi deadline. Kecuali kalau ada urusan keluarga yang bikin kerjaan agak tertunda, baru agak terlambat. Misalnya saat bapakku sakit.

Media sosial tidak mengganggu, karena aku disiplin mengatur waktu kapan menulis dan kapan bermedia sosial. Tidak ada masalah. Lagipula, media sosial aku manfaatkan untuk berkomunikasi dengan pembaca karya-karyaku atau mempromosikan karya-karyaku, bukan untuk curhat masalah pribadi ^_^

Bagaimana menciptakan tokoh dan karakter?

Aku membayangkan karakternya kemudian kutuliskan ciri-ciri fisiknya, sifat-sifatnya, hobinya, kebiasaan-kebiasaannya. Bagaimana hubungan si tokoh dengan keluarga, teman-teman dan lingkungannya. Itu yang nantinya jadi pegangan sepanjang cerita.

Bagaimana mengatur plot?

Plotnya mengalir begitu saja. Biasanya ide itu muncul dalam kepala lalu aku tulis dan aku atur sedemikian rupa.

Membuat outline tiap kali mau menulis novel?

Awalnya tidak, tapi sekarang ini aku biasakan membuat outline. Ternyata itu memudahkan proses menulis.

Bagaimana pendekatan Arumi ke penerbit?

Setelah Tahajud Cinta di Kota New York, alhamdulillah beberapa editor menghubungiku dan memintaku menulis naskah untuk mereka. Di antaranya editor Grasindo. Menurut pengalamanku, seorang penulis sebaiknya memiliki blog. Karena biasanya editor yang mencari penulis, mereka juga melihat-lihat blog penulis. Di blog bisa dibaca contoh tulisan dan kontak ke penulis. Sebagai penulis, selain membina hubungan baik dengan penerbit, juga hendaknya membina hubungan baik dengan sesama penulis. Order menulis terkadang aku dapatkan karena aku direkomendasikan teman. Tentunya teman tidak sembarangan merekomendasikan kita kepada seorang editor. Kinerja kita harus sudah jelas. Disiplin memenuhi deadline, produktif menulis dan hasilnya tidak mengecewakan. Kesempatan menulis Monte Carlo aku dapatkan karena direkomendasikan teman penulis kepada editor Gagas Media. Setelah tugas diberikan, aku harus membuktikan, aku mampu menyelesaikan tugas dengan baik. Karya yang sudah terbit pun tanpa sadar dipantau oleh penerbit-penerbit. Jika ada yang merasa cocok, editor penerbit itu akan menghubungi. Karena itu berkarya saja sebaik-baiknya, setelah banyak hasil karya yang bermunculan, penerbit dengan sendirinya akan menghubungi penulis.

Bagaimana menjaga hubungan baik dengan penerbit?

Rutin menjalin komunikasi. Selalu datang jika ada undangan acara dari penerbit. Sesekali menyapa editor-editorku. Terkadang main ke kantor penerbit untuk membicarakan ide-ide aku.

Bagaimana dengan royalti? Apakah menggembirakan?

Berdasarkan pengalaman, untuk penerbit yang sudah dikenal profesionalitasnya, royaltinya memang tidak mengecewakan. Selalu dibayar tepat waktu dan laporan royalti selalu dikirimkan. Tapi pernah juga pengalaman dengan penerbit yang lama membayar royalti dan harus ditagih berkali-kali. Akhirnya aku yang kemudian menyeleksi penerbit. Saat ini aku memilih hanya bekerja sama dengan penerbit yang bekerja secara profesional. Termasuk profesional dalam membayar royalti penulis.

Pernah mengalami writer block? Bagaimana mengatasinya?

Pernah. Biasanya aku mencari inspirasi dengan jalan-jalan, menonton film dan membaca.

Motivasi utama Arumi dalam menulis novel?

Ingin menulis lebih baik dan lebih baik terus. Karena dari satu naskah yang sudah terbit, biasanya ada pelajaran yang bisa aku petik yang nantinya bisa memperbaiki tulisan selanjutnya. Selain itu rasanya bahagia bukan main jika ada pembaca yang senang dengan tulisanku, bikin semangat menulis cerita yang lainnya lagi.

Novelis yang kamu suka?

Aku suka cara Tere Liye bertutur. Novelis luar, aku suka karya Agatha Christie.

Mimpi terbesar Arumi di dunia kepenulisan?

Pengin bukuku banyak yang baca, banyak yang merasa terhibur, syukur-syukur jika ada yang terinspirasi

Arumi punya blog? Mungkin ada yang ingin mengenal lebih dekat.

www.arumi-stories.blogspot.com . Sebenarnya gaya menulisku biasa-biasa aja sih, bukan tipe yang tulisannya bagus banget dan kaya diksi, hehehe…. Masih kalah jauh kelasnya dengan Tere Liye atau Dee Lestari. Tapi tiap gaya menulis sepertinya punya penggemar tersendiri. Setiap penulis punya gaya menulis sendiri. Jadi, tetaplah percaya diri dengan kemampuan sendiri. Dengan rasa percaya diri, maka kita akan mudah meneruskan langkah berikutnya.

*Catatan :

Hasil wawancara di sini sudah aku edit dan tambah.

Hasil wawancara asli ada di link ini : http://lifestyle.kompasiana.com/hobi/2014/10/19/inspirasi-menulis-arumi-e-saputra-3-tahun-menerbitkan-14-novel-681200.html

Senin, 13 Oktober 2014

Pesan yuk, Novel Arumi E. edisi bertandatangan

Buat teman-teman yang ingin koleksi novel karya Arumi E., sekarang bisa pesan langsung ke aku lho. Bonus tandatangan tentunya ^_^.

Ini daftarnya yaa ...

Coming soon ... Unforgotten Dream, akan terbit tanggal 3 November 2014.

Penerbit Elex Media.

Open PO. Harga Rp 39.800. diskon 15%. Belum termasuk ongkos kirim yaaa ^_^





Hatiku Memilihmu, penerbit Gramedia, terbit 2014
Harga 53.000 diskon 15%






























Monte Carlo, penerbit Gagas Media, terbit 2014
Harga 55.000 diskon 15%





























Cinta Valenia, penerbit Elex Media, terbit 2014
Harga 43.800 diskon 15%






























Amsterdam Ik Hou Van Je, penerbit Grasindo, terbit 2013
Harga 51.000 diskon 15%






























Longest Love Letter, penerbit Grasindo, terbit 2013
Harga 47.000 diskon 15%






























JOJOBA, penerbit DeTeens (imprint Diva Press), terbit 2013
Harga 40.000 diskon 15%






























Bagi yang berminat, kirim saja email pemesanan ke arumieko@gmail.com yaa.

Terima kasih teman-teman ^_^


Sabtu, 11 Oktober 2014

Surat Untuk Bapak



Surat ini kutulis cukup lama. termuat dalam antologi Rindu Ayah. Kini, ending surat ini sedikit berubah. Yang tidak berubah adalah, aku tetap bangga pada Bapak dan berharap suatu hari nanti bisa membuat Bapak bahagia ...

Inilah suratku untuk Bapak ...

Dear Bapak,

Bapak, aku mohon maaf ya, mungkin jarang sekali aku mengucapkan terima kasih secara langsung pada Bapak, walau Bapak sudah memberi aku banyak. Tapi sungguh, rasa terima kasihku tak terkira pada Bapak. Mungkin aku tak mampu mengucapkan langsung, baiklah akan kuungkapkan rasa terima kasihku pada Bapak dalam suratku ini.

Terima kasih Pak, karena selalu mendukung aku. Aku tahu itu walau sering kali Bapak tidak terang-terangan menunjukkan dukungan Bapak untukku. Aku anak perempuan Bapak satu-satunya, di antara kedua adikku yang laki-laki. Walau aku anak pertama, tapi Bapak paling memperhatikan aku. Bapak rela mengantar aku ke mana saja atau menjemputku. Bapak selalu bilang, karena aku anak perempuan satu-satunya, maka Bapak harus menjagaku lebih. Ya, karena kedua adikku yang laki-laki gagah pastinya lebih mampu menjaga diri mereka sendiri.

Bapak telah mewarisikan bakat menggambar dan seni rupa kepadaku. Bapak juga yang dahulu pernah mengajari cara membuat patung dari tanah liat. Kita punya hobi yang sama, senang menggambar dan membuat relief atau patung. Aku ingat, kita pernah sama-sama mendesain kolam ikan di depan rumah kita, membuat gua-gua, bunga-bunga karang juga membuat air terjun mini. Aku senang membantu pekerjaan Bapak itu. Kolam ikan itu adalah hasil kerja sama kita berdua. Senangnya setelah kolam ikan itu jadi, hasilnya terlihat bagus sekali.

Aku ingat sejak aku masih sekolah dasar dulu, Bapak adalah Bapak yang paling perhatian di antara bapak-bapak temanku yang lain. Ketika aku pergi darmawisata bersama teman-teman satu kelas, teman-teman meledekku karena ternyata Bapak mengikuti Bus pariwisata kami dengan motornya di belakang bus kami. Awalnya aku malu disebut anak manja. Aku tidak manja. Bukan aku yang meminta Bapak mengikuti aku. Itu kemauan Bapak sendiri, kan? Bapak bilang, Bapak ingin mendapatkan kepastian bahwa putri tersayangmu ini selamat sampai tujuan. Aku sadar kemudian, bahwa Bapak memang lain daripada yang lain.

Bahkan hingga aku dewasa dan telah bekerja, seringkali aku pulang sangat larut, tapi Bapak, walau telah setengah baya, rela menjemputku. Apalagi ketika Jakarta macet bukan main akibat banjir di mana-mana, Bapak tanpa ragu menjemputku langsung ke kantorku, melajukan motor Bapak membelah banjir dari Cengkareng menuju kantorku di Sudirman. Walau banjir di mana-mana, walau gerimis mengguyur, Bapak tak gentar menerjang semua demi menjemput aku putri tersayangmu.

Hingga kemudian aku memutuskan berhenti bekerja dan memilih menekuni hobiku menulis serta memulai usaha kecil-kecilan membuat sepatu lukis, Bapak tak melarang. Walau aku merasa bersalah karena takut mengecewakan Bapak yang sudah menyekolahkan aku hingga meraih gelar Sarjana Arsitektur. Semula pasti Bapak berharap aku bisa menjadi Arsitek profesional seperti cita-citaku dahulu, mampu hidup mandiri dan mapan. Benar begitu kan, Pak? Itu pasti harapan setiap Bapak untuk anak-anaknya.

Tapi Bapak tak menunjukkan rasa kecewa, Bapak justru tetap mendukung apa pun keputusanku. Diam-diam Bapak menawarkan kepada teman-teman Bapak sepatu lukis buatanku. Diam-diam Bapak menjadi marketing sepatu lukis buatanku itu. Tanpa aku minta, itu adalah inisiatif Bapak sendiri, sebagai bentuk dukungan Bapak dengan apa yang aku kerjakan. Terima kasih, Pak, atas dukungan Bapak selalu.

Bapak juga tahu betapa aku sangat suka menulis cerita fiksi. Ketika kemudian cerita pendek hasil karyaku dimuat di beberapa media, diam-diam Bapak membeli majalah yang memuat cerpen karyaku itu dan memamerkannya kepada teman-teman Bapak, bahkan Bapak sengaja membeli beberapa majalah yang memuat cerpen hasil karyaku dan membagikannya kepada teman-teman Bapak. 

Aku baru tahu kemudian. Dan sedikit terkejut tak menyangka dukungan Bapak terhadap kegiatanku ternyata sangat besar. Ketika aku menanyakan alasan Bapak yang berbaik hati membeli majalah-majalah itu dan memberikannya untuk teman-teman Bapak, Bapak hanya menjawab, 
“Karena Bapak bangga kamu berhasil berprestasi, karyamu dimuat di media yang terbit di seluruh Indonesia.” 

Sungguh, aku terharu mendengarnya. Dukungan penuh dari Bapak itu sangat berarti buatku, telah meringankan langkahku untuk terus lanjut berkarya, apa pun yang aku suka dan menghasilkan hal positif.

Dalam hati aku berjanji, tak akan mengecewakan Bapak, tak akan membuat Bapak menyesal telah memberi aku pendidikan tinggi hingga meraih predikat sarjana, tapi pada akhirnya kini aku menekuni pekerjaan yang meyimpang dari pendidikanku itu. Akan aku buat Bapak bangga dengan prestasiku di bidang lain.

Harapan terbesarku kini, aku ingin membuat Bapak bahagia. Aku lihat bagaimana Bapak disayang anak-anak kecil di sekitar rumah. Mereka menyebut Bapak, “Eyang kakung” atau “Mbah kakung” yang artinya kakek. Mereka datang ke rumah setiap menjelang sore minta diajarkan menggambar. Dengan senang hati Bapak memberikan pelajaran menggambar kepada anak-anak kecil itu. Seolah anak-anak tetangga itu adalah cucu Bapak sendiri

Aku sadar, Bapak telah menjadi favorit anak-anak kecil di kampungku. selalu saja ada di antara mereka yang datang ke rumah dan mencari “Eyang Kakung” alias Bapak. Pernah Bapak bilang, 
“Nggak apa-apa, ngemong cucu orang dulu, sebelum nanti ngemong cucu sendiri.”

Aku tersenyum sekaligus merasa diingatkan. Maafkan aku ya, Pak. Tentu saja putrimu ini ingin sekali menikah. Tapi sayangnya aku memang belum diberikan jodoh. Dan aku berterima kasih karena walau hingga kini aku belum menikah, Bapak tak pernah memaksakan kehendak Bapak menjodohkan aku dengan pilihan Bapak misalnya. Bapak tak pernah mau memaksa anak-anaknya. 

Bapak berikan aku kebebasan untuk memilih sendiri jodoh yang terbaik untukku.
Sabar ya, Pak. Ya, aku sangat ingin menikah, kemudian memperoleh beberapa orang anak yang akan menjadi cucu-cucu kebanggaan Bapak. Mungkin cucu pertama adalah seorang anak laki-laki. Dan cucu berikutnya dua anak perempuan kembar. Aku ingin sekali itu terjadi, Pak. Sungguh! Aku ingin Bapak menjadi Mbah kakung bagi anak-anakku kelak. Aku yakin, pasti Bapak akan menjadi Mbah kakung terbaik di dunia.

Pasti Bapak akan membuatkan mainan-mainan tradisional untuk cucu Bapak kelak. Pasti anak-anakku nanti akan sayang sekali kepada Bapak sebagai Mbah kakung mereka yang penuh perhatian. Itu adalah harapan indahku, Pak.
Doakan aku ya, Pak. Doakan aku segera menemukan jodohku. Dalam setiap usai sholatku, selalu kupanjatkan doa untuk Bapak dan Ibu. Aku doakan semoga Bapak dan Ibu selalu diberi kesehatan dan kesabaran. 

Aku sangat bangga kepada Bapak. Bapakku yang penuh tanggungjawab. Yang masih semangat bekerja di usiamu yang telah enam puluh tahun ini. Bapak yang tak pernah mau mengecewakan pasien-pasiennya. Bapak yang selalu tepat waktu sejak dahulu, hingga kini. Bapak yang seringkali ngomel setiap aku ingin nebeng Bapak tapi lelet sekali. Yah, karena Bapak sangat disiplin dengan waktu, tak boleh terlambat sedikit pun dalam melaksanakan tugas.

Bapak yang selalu jujur dalam mencari nafkah untuk memenuhi kebutuhan keluargamu. Karena bagi Bapak, rejeki halal bagi keluarga, Insya Alllah akan memberi keberkahan bagi kami. 

Terima kasih sekali lagi, Pak. Terima kasih karena telah menjadi Bapak yang baik. Bapak yang selalu bisa aku andalkan. Semoga suatu hari nanti aku mampu membalas jasa-jasa Bapak kepadaku. Pastinya aku tak akan mampu membalas semua kebaikan Bapak. Karena terlalu banyak yang telah Bapak berikan untuk kami. Sudah tentu hanya Allah yang mampu membalasnya. Alhamdulillah, Allah telah menganugerahkan Bapak yang baik untukku. 

Kini Bapak benar-benar pensiun dari pekerjaannya. Serangan stroke membuat Bapak tak bisa bekerja seperti dulu lagi. Tak apalah, memang sudah saatnya Bapak duduk tenang saja. Biarkan anakmu ini yang bekerja. Doakan saja aku selalu mendapat ide menulis kisah-kisah indah, karena inilah pekerjaanku sekarang, menulis novel.

Alhamdulillah, kesehatan Bapak semakin baik. Kita smaa-sama menjalani hidup ini dengan penuh keihlasan dan rasa optimis segalanya akan membaik dan membahagiakan. Ini adalah wujud kasih sayang Allah agar kita menjadi hamba yang lebih sabar dan agar keluarga kita semakin erat, saling peduli dan saling mengasihi.

Tambah sehat ya, Pak. Betapa Ibu dengan setia telah mendampingi dan menjaga Bapak. Suatu saat nanti, semoga aku bisa membahagiakan Ibu dan Bapak. 

Salam hormat,
Anak perempuanmu tersayang.


Selasa, 07 Oktober 2014

Menghadiri gala premiere Strawberry Surprise




Lagi-lagi aku mendapat undangan menghadiri acara premiere film Indonesia terbaru. Waah, senangnya. Saat aku baca nota pengirimannya, yang mengundangku adalah Starvision. Aku masih belum tahu kenapa aku bisa diundang, tapi aku sangat berterima kasih dan sangat menghargai undangan ini. Karena ternyata menghadiri acara premiere film itu sangat menambah wawasan.

Kali ini aku menonton pemutaran perdana film berjudul Strawberry Surprise, yang diadaptasi dari novel berjudul sama karya penulis Desi Puspitasari.

Menurut penilaianku filmnya bagus walau ceritanya tergolong sederhana. Akting cemerlang Reza Rahardian dan Acha Septriasa telah membuat film ini sangat enak dinikmati. Aku sudah beberapa kali menonton film yang dibintangi Reza Rahardian. tapi baru di film ini aku sangat terkesan dengannya dan bikin aku naksir Reza.

Mungkin karena karakter Reza di film ini pas banget kali ya dengan seleraku, hehehe. Macho banget tapi penyayaaang banget. Bikin mupeng pengin disayang cowok seperti itu juga. 

Reza oh Reza ...

Sebelum film dimulai aku sempat menyaksikan konpres-nya.




Ada Acha Septriasa, dan Olivia Jensen


Properti filmnya di lobby Epicentrum XXI

Di sini aku sempat bergaya di properti yang disediakan. Karena aku datang sendiri, aku minta fotoin petugas XXI 


Seperti sebelumnya, begitu keluar dari teater, aku mendapat goody bag berisi kaos bertuliskan Strawberry Surprise.

Dapat suvenir kaos cute ^_^


Ah, semoga kelak aku diundang lagi datang ke premiere film-film berikutnya. Aamiin ^_^

Oya, buat teman-teman yang belum baca novel karyaku "Tahajud Cinta di Kota New York", baca yuk. Nanti novelku ini juga akan diangkat menjadi film oleh MD Pictures lho ^_^